Sukses dengan Co-Branding

big_cobranding.jpgMenciptakan citra positif atau image telah sering dilakukan perusahaan. Banyak cara, langkah dan model yang bisa digunakan. Misalnya dengan melakukan rebranding, spiritual branding, maupun emotional branding. Lalu, bagaimana dengan perusahaan Anda?

Kalau melihat Indosat, banyak yang telah dilakukan untuk menciptakan image positif di benak pelanggannya. Salah satunya adalah melakukan co-branding dengan perusahaan lain. Seperti pada pertengahan 2005 lalu, Indosat bekerjasama dengan BNI melakukan co-branding dalam meluncurkan Matrix BNI Mastercard.

Bagi salah satu perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia ini, strategi co-branding tersebut dapat memberikan keuntungan yang optimal kepada pelanggan Matrix ketika pelanggan melakukan transaksi. Dengan co-branding ini Indosat akan mampu memberikan layanan yang excellent kepada pelanggan. Sehingga, pelanggan menjadi lebih mudah dalam melakukan segala aktivitasnya yang berhubungan dengan kartu kredit.

Melalui keunggulan strategi co-branding ini, juga akan tercipta value yang sangat berarti bagi pelanggan. Alhasil, pelanggan pun akan semakin setia dan bukan tidak mungkin jumlahnya akan semakin bertambah.

Memang co-branding yang dilakukan dengan BNI merupakan upaya Indosat dalam memberikan keleluasaan dan kebebasan bagi pelanggan Matrix. Seperti kepuasan dalam bertransaksi melalui fitur-fitur yang lebih lengkap. Inovasi yang dilakukan pun sengaja diarahkan untuk memberikan nilai tambah dan keuntungan bersama, baik kepada pelanggan, perusahaan, juga mitra co-branding.

Saat ini, jumlah pelanggan Indosat telah melebihi enam juta orang. Sedangkan untuk pasca bayar selular Indosat, termasuk Matrix, telah melebihi 380 ribu orang. Tentunya ini merupakan pasar yang sangat besar. Untuk itu, sangatlah mungkin bila dengan co-branding Indosat akan mampu mengembangkan inovasi layanan produk dan jangkauannya yang semakin luas sampai ke seluruh pelosok tanah air.

Sebenarnya, strategi pemasaran co-branding bisa terjadi bila sebuah perusahaan bekerjasama dengan perusahaan lain dalam konteks marketing. Misalnya dalam mempromosikan produk baru.

Contoh sukses perusahaan yang berhasil melakukan co-branding adalah Pepsi Cola dan LucasFilm dalam mempromosikan film StarWars. Sedangkan dalam industri kartu kredit, co-branding seperti yang dilakukan oleh Mastercard dengan Generals Motor dan AT&T telah berhasil meningkatkan penjualan dan value kartu kredit dari Mastercard.[1]

Tentunya tidak semua co-branding berhasil dilakukan. Seperti misalnya co-branding yang dilakukan oleh Sony dalam mengangkat film Last Action Hero milik Columbia Pictures. Meskipun telah memegang peran yang sangat penting, namun Sony Mini Disk CD tidak mampu mengangkat nilai penjualan film tersebut.

Karena itu, co-branding ini tidak begitu saja bisa dilakukan. Menurut Grossman, pakar marketing strategic, ada beberapa yang perlu diperhatikan. Pertama, perusahaan Anda perlu melihat co-branding sebagai sebuah strategy daripada sebuah aktivitas tactic. Dengan begitu, keuntungan yang didapat akan jauh lebih besar dibandingkan daripada sekadar mempromosikannya saja.

Kedua, ingat bahwa kedekatan dari dua brand harus benar-benar mampu mengangkat image yang positif. Seperti misalnya co-branding yang dilakukan Kentucky Fried Chicken (KFC) dengan Coca-Cola, dimana kedua brand ini saling melengkapi. Sehingga akan mampu meningkatkan penjualan produk tersebut. Berbeda bila KFC bekerjasama dengan Dell Computer, tentunya akan sulit untuk membentuk image yang positif dan meningkatkan penjualan.

Ketiga, rencanakan bagaimana anda akan keluar dari kerjasama ini nantinya. Karena risiko dari sebuah kerjasama yang berlangsung lama dengan brand yang khusus, berarti akan sangat sulit untuk melepaskan brand tersebut dari image yang sudah terbentuk. Ingat bahwa perusahaan Anda bukanlah penjaga dari image perusahaan partner Anda. Bila terjadi kesalahan dari partner Anda, maka bisa menjadikan kegagalan terhadap image yang telah dibentuk bersama.

Dan yang terakhir, saat memutuskan untuk melakukan co-branding, perusahaan Anda harus memegang kontrol terhadap faktor pendukung pada saat promosi seperti sponsorship atau celebrity endorsement. Jangan sampai kesalahan dari mereka mempengaruhi image yang akan dibangun. Contohnya, kegagalan Pepsi Cola dalam mengangkat ekuitas mereknya. Karena sang endorser, Michael Jackson, mengalami dehidrasi malah membuat ekuitas merek Pepsi Cola menjadi terpuruk.

Memang, setiap kerjasama bisnis seperti co-branding memiliki kelebihan dan risiko tersendiri bila dibandingkan bila Anda melangkah sendiri. Anda harus yakin, ketika Anda masuk ke dalam suatu kerjasama, harus melakukannya dengan perhatian penuh dan siap dengan kemungkinan baik atau buruk. Karena biasanya sebuah kerjasama berlangsung dalam waktu yang cukup lama.

Sekarang, siapkah Anda melakukan co-branding?***


[1] Grossman, Randi Priluck., “Co-branding in advertising: developing effective associations,” Journa of Product & Brand Management, Vol. 6 No. 3 1997 pp. 191-201 © MCB University Press, 1061-0421

 

Tulisan ini dibuat penulis ketika menjadi business analyst di MarkPlus&Co

One thought on “Sukses dengan Co-Branding

  1. Mungkin yang dimaksud adalah Co-Marketing ya? Dimana yang dilakukan adalah aktifitas pemasaran secara bersamaan.

    Sedangkan Co-branding adalah aktifitas dimana 2 atau lebih produk perusahaan yang menciptakan sebuah produk baru dengan me”leverage” brandnya masing-masing dalam sebuah produk yang diciptakan tersebut. Contohnya adalah Extra Joss Strike (Extra Joss dengan Coca cola), Oreo dengan Baskin Robbin, Acer Ferrari, etc.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s